Datuk Kopi

Seorang mantri kopi beserta istri dan juru tulis. (Sumber: Sumatera Barat Plakat Panjang Jilid 2, Rusli Amran)

 

dahoeloe rabab nan bertangkai
kini kopi nan berboenga
dahoeloe adat lebih dipakai
kini rodi lebih bergoena

Begitulah keadaan Minangkabau yang diekspresikan melalui pantun pada pertengahan abad ke-19 hingga awal abad ke-20, yang banyak dikutip oleh para orientalis untuk memandang Minangkabau, termasuk yang dikutip oleh buku Jeffrey Hadler. Pantun itu tidak hanya sekedar memberi gambaran bahwa pada pertengahan abad ke-19 hingga awal abad ke-20 rakyat Minangkabau tengah dikuras keringatnya oleh pemerintah kolonial Belanda untuk melaksanakan kerja rodi dan tanam paksa kopi, yang dinamakan dengan cultuurstelsel.

Pantun di atas bercerita lebih dari itu, dan ini pangkal-balanya tidak hanya kebijakan pemerintah kolonial Belanda. Sejak berkecamuknya Perang Paderi antara kaum agama dengan kaum adat, tidak hanya membuka pintu bagi Belanda untuk masuk dan menjalankan sistem kolonialismenya. Namun juga, sebenarnya telah menyisakan luka mental yang mendalam. Tatanan kebudayaan dan adat Minangkabau telah porak-poranda. Bangsa Minangkabau berusaha bangkit kembali dengan Sumpah Sati Bukik Marapalam, dengan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Belum lagi tatanan baru itu berjalan sempurna dan mendarah-daging bagi rakyat Minangkabau, pemerintah kolonial Belanda telah ikut campur dengan melanggar sendiri perjanjian yang mereka tanda-tangani dengan rakyat Minangkabau.

Pada perjanjian Plakat Panjang, kolonial Belanda telah berjanji tidak akan ikut-campur dalam pemerintahan tradisional Minangkabau. Namun ternyata, ketidak-ikut campur kolonial Belanda ini malah membawa kesulitan bagi cultuurstelsel yang diterapkan kolonial Belanda, sebagaimana begitu mudahnya menerapkan sistem ini di Jawa. Bab Drama Kopi pada buku Sumatra Barat Plakat Panjang jilid 2 karangan Rusli Amran begitu lugas menerangkan hal ini. Watak bangsa Minangkabau ternyata jauh berbeda dengan orang Jawa, suatu hal yang membuat pemerintah kolonial Belanda panik dan kehilangan akal untuk menaklukkan bangsa Minangkabau. Memang, Minangkabau secara geografis telah mampu ditaklukkan, namun Minangkabau secara mental tidak pernah ditaklukkan.

Kolonial Belanda tidak bisa menerapkan sistem pajak bagi orang Minangkabau. Akhirnya, pajak yang diharapkan untuk meraup keuntungan yang besar bagi pemerintah kolonial diambil dari sistem tanam kopi. Setiap hasil panen kopi harus dijual ke pemerintah kolonial, jika dijual ke tengkulak di luar pengawasan pemerintah kolonial akan dikenakan pajak yang tinggi. Kolonial Belanda telah berpengalaman mendapat kerugian besar di Minangkabau. Bahkan tercatat, untuk menaklukkan Minangkabau ini telah menguras kekayaan Belanda terbesar dibanding daerah lain di Nusantara. Bahkan kerugian tersebut belum terlunaskan sampai Belanda angkat kaki dari daerah ini.

Pengalaman pahit itulah kemudian membuat tangan-tangan pemerintah kolonial Belanda jadi gatal-gatal untuk mengawasi langsung sistem tanam paksa kopi yang dimimpikan akan membawa keuntungan yang sangat besar. Pemerintah kolonial Belanda mulai ikut campur dalam sistem tradisional Minangkabau. Mereka mulai mengangkat penghulu-penghulu mereka sendiri, yang bisa secara langsung mereka kendalikan, terutama untuk tanam paksa kopi.

Penghulu-penghulu bikinan pemerintah kolonial Belanda yang juga bergelar datuk itu kemudian ada di mana-mana, hampir di setiap negeri di Minangkabau yang menanam kopi. Mereka, penghulu-penghulu itu, mengepalai dan mengawasi secara langsung setiap kebun-kebun kopi yang ada. Setiap satu kebun kopi akan dikepalai oleh seorang penghulu, yang disebut dengan Penghulu Rodi. Pemerintah kolonial Belanda membuat kebijakan bahwa setiap yang memiliki lahan harus menanam kopi dan anggota keluarganya dibebas-tugaskan untuk tidak mengirim pekerja pada kebun-kebun kopi milik pemerintah. Sedangkan bagi yang tidak mempunyai lahan, mereka wajib mengirimkan salah-seorang anggota keluarganya untuk jadi pekerja di kebun-kebun kopi milik pemerintah kolonial.

Salah satu ilustrasi tempat pemrosesan pasca panen dan gudang kopi. (Sumber: Sumatera Barat Plakat Panjang Jilid 2, Rusli Amran)

Bukan hanya Penghulu Rodi yang dibikin pemerintah kolonial Belanda, namun juga ada Penghulu Kepala. Penghulu Kepala ini bertugas mengepalai beberapa Penghulu Rodi untuk mengumpulkan setiap hasil panen kopi dari kebun-kebun kopi yang diawasi Penghulu Rodi,  maka setiap Penghulu Kepala akan mempunyai sebuah gudang pengumpulan kopi. Seluruh aktifitas tersebut, mulai dari kebun-kebun kopi yang ada sampai hasil panen yang terkumpul di gudang-gudang kopi akan diawasi oleh seorang Tuanku Laras. Tuanku Laras inilah kemudian yang akan berhubungan langsung dengan pemerintah kolonial Belanda.

Maka, jabatan-jabatan baru yang diberikan pemerintah kolonial Belanda terhadap pribumi tersebut telah melahirkan elite-elite baru Minangkabau. Dengan cepat, mereka telah mempunyai kedudukan paling berpengaruh bagi rakyat Minangkabau dan menyingkirkan peran dan pengaruh penghulu-penghulu Minangkabau yang memang ada karena waris sako adat. Bahkan sistem pewarisan jabatan-jabatan pribumi dari pemerintah kolonial Belanda ini juga mengadopsi sistem pewarisan tradisional Minangkabau.

Oleh karena itu, semakin melekatnya jabatan-jabatan itu bagi rakyat Minangkabau, maka semakin samar dan kabur pula mana datuk yang sebenarnya datuk dan mana yang datuk kopi bikinan pemerintah kolonial Belanda. Bahkan ketika sistem tanam paksa kopi dihapus pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1908, jabatan-jabatan untuk pribumi di Minangkabau ini tidak ikut dihapus, tetap berlanjut dan menjadi tradisi waris sebagaimana halnya sistem waris matrilineal Minangkabau.

Seorang pemuka adat di Bukittinggi pernah berkata, “Dulu di sini ada Tuanku Laras Tempo namanya yang terakhir. Waktu saya masih kecil-kecil, sekitar tahun 1950-an, Tuanku Laras Tempo ini masih ada.”

“Masih hidup orangnya sekarang, Mamak?”

“Wah, tidak tahu. Mungkin sudah berkalang tanah, soalnya waktu saya kecil itu, Tuanku Laras Tempo itu pun sudah berumur.”

“Datuk tahu, kenapa gelarnya Tuanku Laras Tempo?”

Saya menggeleng.

“Karena beliau sudah tempo jadi Tuanku Laras alias gelarnya sudah tidak berfungsi lagi. Hanya sosoknya saja masih dihormati orang, makanya dipanggil Tuanku Laras Tempo.” Mamak itu terkakah, memperlihatkan deretan giginya menguning karena kopi dan tembakau.

Berbeda halnya dengan nagari Subarang Danau, negeri yang berada diketinggian 1.500 m/dpl dengan kabut selalu menyelimuti. Punya seorang sosok yang jadi panutan untuk urusan kopi ini. Sosok yang jadi panutan tersebut bukanlah bergelar Datuk, namun bergelar lain. Terakhir ialah Radjo Endah. Sosok yang saat ini menghidupkan geliat kopi solok. Kopi arabika yang lazim disebut Kopi Minang Solok Radjo, yang kembali bergairah dan diperhitungkan dalam varian kopi di Nusantara ini, untuk Kopi Solok Radjo ini akan dibahas khusus dalam sebuah tulisan utuh berikutnya.

Kebun kopi di Nagari Subarang Danau, Kab. Solok. Dari kebun kopi milik pak Rajo Endah inilah titik awal kebangkitan kopi arabika di Sumatra Barat.
Pak Rajo Endah di kebun kopi miliknya. Pak Rajo merupakan salah seorang yang kembali menghidupkan semarak kopi specialty di Solok dan Sumatra Barat. Dari hasil kebun beliau inilah kopi Solok mulai dikenal.
Proses penjemuran gabah kopi di depan rumah Rajo Endah.
Proses penjemuran gabah kopi di depan rumah Rajo Endah.
Pengembangan kebun kopi terus dilakukan karena semakin meningkatnya permintaan terhadap kopi Solok
Pengembangan kebun kopi terus dilakukan karena semakin meningkatnya permintaan terhadap kopi Solok

Kembali ke datuk kopi, tentu menimbulkan pertanyaan, apakah pemerintah Kolonial Belanda berhasil menguasai orang-orang Minangkabau dengan sistem itu? Jawabannya dapat ditemukan dengan melihat bagaimana mental orang-orang Minangkabau saat ini. Minangkabau yang dikenal dengan keegaliterannya. Atau Minangkabau yang dikenal dengan Melayu Kopi Daun-nya; kerja 6 jam, duduk minum kopi 12 jam. Atau Minangkabau sebagai bangsa perantau, meninggalkan kampung halaman untuk mencari penghidupan baru. Atau Minangkabau dengan atau-atau lainnya.

Minangkabau hari ini, dan dari, Minangkabau pada akhir abad ke-19 adalah Minangkabau tatanan baru. Minangkabau yang telah lahir elite-elite baru dan tradisi-tradisi baru. Minangkabau yang tengah menyusun kembali tatanan idealnya setelah pora-poranda akibat perang sesama mereka dalam kecamuk Paderi. Dan Minangkabau yang lahir kembali karena adanya kopi. Minangkabau yang hingga hari ini terus berkecamuk.

MiteKopi Written by:

Mitekopi adalah sebuah usaha pendokumentasian kopi beserta cerita yang mengiringinya di Minangkabau. Selama ini, orang-orang mengamini Minangkabau sebagai sebuah bangsa yang besar dengan adat matrilinealnya yang unik, namun tidak banyak yang memahami bahwa salah-satu yang membangun peradaban tersebut adalah kopi. | Tulisan oleh Pinto Anugrah. | Foto oleh Allan Arthur.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *