Koto Tuo; Ceruk Kopi Gunung Marapi

xLANN4354
Kopi jenis Robusta yang baru keluar dari mesin sangrai setelah di rendang selama 2 jam. Ketika asap mulai banyak keluar dari tabung perendang, itulah pertanda kopi telah masak.

Dari ibu kecamatan Sungai Tarab, di utara balai nagari (pasar tradisional yang hari pasarnya satu hari dalam seminggu), tepat di sisi jalan Masjid Raya, ada simpang empat yang besar. Jika Saudara datang dari selatan maka pilihlah jalan simpang yang ke kiri, jalan yang menuju arah barat. Jalan raya yang semula lebar langsung mengecil, namun menghampar landai mendaki lereng Marapi. Sepanjang jalan kecil yang melandai itu, jika disusuri, Marapi tegak perkasa dengan gagahnya, serupa menghadang, seakan bertanya, “hendak ke mana?”

Kanan-kiri jalan, lahan pertanian tradisional penduduk terhampar. Kebanyakan sawah dengan padi-padi yang menghijau baru ditanam, namun tidak sedikit juga tampak jagung-jagung yang telah mesik menguning sehabis dipanen. Begitu juga dengan tanaman palawija lainnya; cabe, terong, tomat, dan bawang. Angin gunung turun menerpa wajah, begitu sejuk, memberi kabar gigil akan datang. Memang, hari beranjak petang, namun sore masih terik, Marapi dengan puncaknya masih jelas kelihatan. Garis-garis sinar matahari jatuh menghujam hamparan sawah. Berkilauan. Bagaikan melihat seorang gadis lugu yang baru ranum.

Jalan landai dengan pemandangan mata yang lapang tadi mulai terhalang. Sebuah bukit kecil melintang dan menghadang. Ujung hidung mulai menangkap aroma yang lain, bukan lagi aroma lunau persawahan atau miang jagung siap dipanen, namun aroma yang memang sengaja kami cari, aroma rendang kopi. Di sudut bukit yang menghadang itu akan Saudara dapati simpang tiga, satu simpang lurus ke depan, kembali menuruni bukit, dan masuk ke sebuah ceruk yang lapang. Sedangkan satu simpang lagi berbelok arah ke kiri, menyisir dinding bukit masuk ke sebuah ceruk sempit. Ya, di ceruk bukit yang ke kiri itulah Nagari Koto Tuo. Salah-satu nagari di Minangkabau yang paling awal melakukan budidaya tanaman kopi yang digalakkan oleh pemerintah Kolonial Belanda. Sampai hari ini, mereka masih bertahan dengan budidaya tanaman kopi tersebut.

Dan, kenapa sampai hari ini mereka masih bertahan dengan budidaya tanaman kopinya? Jawaban itu akan kita temukan mungkin lambat-laun pada cerita mitekopi ini. Koto Tuo—sebagaimana yang sudah ditulis di atas—terletak pada sebuah ceruk sempit di sebelah timur Gunung Marapi. Terletak pada ketinggian tidak kurang dari 900 m/dpl, sehingga sangat memungkinkan untuk ditanami kopi. Walau pun terletak pada ketinggian dan tersuruk pada ceruk sempit Gunung Marapi, namun Nagari Koto Tuo ini tidaklah terlempar jauh dari pusat keramaian. Hanya berjarak sekitar 3 km dari balai nagari Sungai Tarab di tepi jalan raya, sebelah tenggara Nagari Koto Tuo ini. Dan 3 km pula arah utara ada balai nagari Rao-rao yang juga terletak di tepi jalan raya.

Kedua balai nagari yang pasarnya sekali sepekan ini, menurut catatan Belanda pada buku Sumatera Barat Plakat Panjang karangan Rusli Amran, punya gudang kopi yang besar dengan toke-toke yang siap menampung hasil panen kopi dan juga olahan kopi mereka. Jadi, tidak hanya biji kopi mentah saja yang mereka keluarkan, namun juga berbagai produk kopi dengan berbagai merek mereka produksi. Pada masa ini, mungkin ada puluhan merek kopi yang berasal dari nagari ini. Ke semua merek tersebut mendominasi pasar perkopian tradisional Sumatera Barat saat ini.

xLANN4193
Uni Asniwati, seorang perendang kopi yang cukup produktif di nagari Koto Tuo ini.

Tidak mengherankan memang, Uni Asniwati contohnya, perempuan 38 tahun yang masih menyisakan kecantikan masa gadisnya itu merendang kopi sebanyak 250 kg dalam seminggu, itu baru Uni Asniwati seorang, belum lagi tukang rendang yang lain di kampung itu. Cerah matahari sore menerpa kulitnya yang kuning langsat di pondok khusus merendang kopi di belakang rumahnya di Nagari Koto Tuo. Jeruji besi yang menjadi dinding pondoknya itu telah menghitam. Dari sebalik jeruji besi yang menghitam itu tampak tangannya dengan cekatan mengatur kayu api di bawah drum perendangan kopi.

“Sayang, kalian datang sudah sore, Uni hampir selesai.” Sambutnya sambil melempar senyum manisnya.

xLANN4339
Uni Asniwati dan Etek Ya mengangkat tabung perendang kopi dari tungku api yang berbahan bakar kayu. kapasitas tabung ini bisa mencapai 50 kg dalam satu kali merendang.

Sore itu, Uni Asniwati bekerja tidak sendiri, ada Etek Ya yang umurnya sudah sepuh. Mereka bekerja merendang kopi setiap hari, kecuali hari Rabu. Karena hari Rabu itu hari pekan di Sungai Tarab dan mereka, pada hari pasar itu akan menanti penyalur, yang lazim mereka sebut tukang kampas untuk mengangkut produk mereka.

Ada tiga tungku di pondok Uni Asniwati, dua tungku telah menggunakan mesin diesel untuk memutar drum dan satu tungku manual yang diputar menggunakan tenaga manusia, digunakan sebagai tungku cadangan jika suatu waktu mesin diesel mereka rusak. Dari dua tungku yang menggunakan mesin diesel itu, satu drum digunakan untuk merendang kopi yang berkapasitas 40 kg dan satu drum berkapasitas 50 kg digunakan untuk merendang jagung. Setelah direndang, 40 kg kopi itu dicampur dengan 50 kg jagung, diaduk menjadi satu.

xLANN4326
Detail campuran kopi dan jagung yang telah selesai di sangrai. Perbandingan antara kopi dan jagung adalah 4:5. 40 kg kopi dicampur dengan 50 kg jagung. Tapi komposisi ini juga tidak baku. Sesuai dengan ramuan dari produsen kopinya.

Kopi dicampur jagung dengan takaran tertentu, itulah resep tradisional produk kopi dari Nagari Koto Tuo ini. Terkadang, mereka juga punya resep tambahan, selain dicampur jagung ada juga ditambahi dengan coklat cair, dengan cara diolesi pada biji-biji kopi yang sudah direndang. Resep ditambahi cokelat ini juga dipakai oleh Uni Asniwati. Tidak ada yang salah, juga bukanlah suatu citarasa yang rendah. Inilah tradisi, tradisi yang membentuk lidah mereka sesuai dengan cecap kopi-jagung tersebut. Sebagaimana tradisi bagi orang-orang di Nagari Koto Tuo ini menjadi tukang kopi untuk wilayah Sumatera bagian tengah.

Selai coklat yang dicampurkan ke biji kopi sesaat setelah dikeluarkan dari tabung perendang kopi.
Selai coklat yang dicampurkan ke biji kopi sesaat setelah dikeluarkan dari tabung perendang kopi.

Setelah selesai, maka Uni Asniwati akan pergi menggiling kopi-kopinya ke huller di ujung Nagari Koto Tuo ini. Ada 2 buah huller di Nagari ini dan masing-masing huller ini menerima pesanan gilingan kopi rata-rata 1 ton/hari. Angka 1 ton/hari tersebut bisa menjadi patokan bahwa Nagari ini memproduksi kopi rata-rata dalam angka 1 ton/hari juga dengan berbagai merek, yang tersebar ke Sumatera bagian tengah.

xLANN4457
Di Nagari Koto Tuo ini ada beberapa huller yang khusus menggiling biji kopi yang telah disangrai menjadi bubuk. Dalam satu hari, huller ini bisa menggiling hingga 1 ton biji kopi.

“Padusi marandang, laki-laki mangampas.” Terang Uni Asniwati. Sebuah tradisi di Nagari Koto Tuo dengan pembagian kerja antara perempuan dengan laki-laki. Perempuan mendapat porsi kerja untuk pengolahan, mulai dari mengolah biji kopi yang masih hijau, lalu merendangnya, menumbuk atau kini sudah digiling di huller, kemudian mengemasnya sesuai dengan takaran kemasan. Baru setelah semua itu selesai, laki-laki yang berperan untuk memasarkannya, tersebar merata ke seluruh Sumatera bagian tengah. Lihat saja, jika Saudara pergi ke minimarket atau toko-toko biasa, Saudara dengan begitu mudah akan menemukan kemasan kopi bertuliskan Koto-Tuo-Sungai Tarab.

“Alah patang, Uni alah salasai marandang. Kalian alah salasai mancaliak-caliak? Talampau bacaliak bana, anak gadih di siko rancak-rancak, lupo jalan pulang beko.” Kelakar Uni Asniwati menyindir, bahwa kalau datang ke Nagari ini bisa lupa jalan pulang karena gadisnya rancak-rancak. Serancak Marapi sore itu, seranum aroma kopi yang ikut turun dengan angin gunung yang mulai berhembus.

 

Watch Fifty Shades Darker (2017) Full Movie Online Streaming Online and Download

MiteKopi Written by:

Mitekopi adalah sebuah usaha pendokumentasian kopi beserta cerita yang mengiringinya di Minangkabau. Selama ini, orang-orang mengamini Minangkabau sebagai sebuah bangsa yang besar dengan adat matrilinealnya yang unik, namun tidak banyak yang memahami bahwa salah-satu yang membangun peradaban tersebut adalah kopi. | Tulisan oleh Pinto Anugrah. | Foto oleh Allan Arthur.

One Comment

  1. FX Sigit
    March 29, 2017
    Reply

    wow.. tulisan yang sangat menarik. budaya ngopi indonesia memang beragam. terima kasih untuk tulisannya yang semakin membuka mata saya soal budaya “ngopi” di indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *