Koto Tuo; Merendang Kopi Perempuan Matrilineal

Asniwati, seorang penyangrai kopi di nagari Koto Tuo, kab. Tanah Datar.
Asniwati, seorang penyangrai kopi di nagari Koto Tuo, kab. Tanah Datar.

Ia melap keringat di pipinya dengan punggung tangannya. Keringat di pipi itu tersapu, namun berganti dengan arang hitam seperti sapuan blush on. Lalu ia melempar senyum. Senyum manis keikhlasan. Senyum pegunungan yang tersuruk, yang telah sulit didapat.

“Masuklah! Tapi nanti bajunya bau asap, tidak masalahkan?” Kata di ujung senyum itu. Perempuan itu, namanya Asniwati. Akrab disapa Uni As. Tidak lagi muda, namun juga belumlah berumur lanjut. Umurnya 38 tahun, sudah punya anak 4 orang, yang tertua baru saja masuk kuliah. Walaupun begitu, kecantikan masa gadisnya masih merona. Kecantikannya alami, mungkin karena udara pegunungan atau bisa jadi karena memang jarang atau malah tidak pernah sama sekali disentuh oleh polesan bedak perempuan kota.

Ia kemudian kembali sibuk mengatur kayu bakar di tungku agar apinya merata. Sedangkan drum yang berisikan kopi di atasnya terus berputar. Drum itu diputar melalui sebuah tuas yang tersambung ke sebuah dinamo dan dinamo itu digerakkan oleh sebuah mesin diesel berbahan bakar bensin. Putarannya cukup lambat, namun juga cukup kuat untuk memutar 40 kg kopi di dalamnya. Putaran yang cukup lambat itu mampu merendang kopi secara merata dalam 2 jam.

Proses sangrai kopi masih dilakukan secara tradisional. Drum besi yang dipanggang dengan kayu api. Kapasitas drum ini mencapai 50kg kopi atau jagung dalam sekali proses sangrai.
Proses sangrai kopi masih dilakukan secara tradisional. Drum besi yang dipanggang dengan kayu api. Kapasitas drum ini mencapai 50kg kopi atau jagung dalam sekali proses sangrai.

Tuas dari dinamo tadi tidak hanya untuk menggerakkan tungku dengan drum berkapasitas 40 kg tadi, tapi juga bercabang, berlawanan arah, ke sebuah tungku lain di sebelahnya. Di atas tungku itu teronggok drum sedikit lebih besar dari sebelumnya, berkapasitas 50 kg. Namun di dalam tungku itu bukanlah kopi yang direndang, melainkan jagung. Jagung yang sudah direndang ini salah-satu bahan untuk dicampur dengan kopi. Merendang jagung tidak membutuhkan waktu yang lama seperti merendang kopi, hanya butuh waktu lebih kurang 1 jam.

Awalnya, tungku dengan drum yang berisikan jagung berasap. Asapnya seketika mengabut, memenuhi seisi pondok. “Sudah matang.” Sorak Uni As.

Lalu Uni As memanggil kawan kerjanya sore itu yang sedari tadi duduk termangu di sudut rumah, tidak jauh dari pondok. Etek Ya namanya. Umurnya telah sepuh, mungkin 60-an tahun, namun tampak masih begitu kuat dan bertenaga. Buktinya ia masih kuat mengangkat drum 50 kg yang berisikan jagung itu dari tungku. Berdua dengan Uni As. Jagung itu mereka tuangkan pada sebidang lantai di sudut pondok. Seketika asap kembali membumbung ke udara. Aroma jagung yang terbakar langsung menusuk hidung.

Berdua dengan Etek Ya, Uni Asniwati melakukan pekerjaan sangrai kopi ini semenjak 3 tahun lalu. Beliau meneruskan usaha ibunya yang sebelumnya juga seorang penyangrai kopi.
Biji kopi maupun biji jagung didinginkan terlebih dahulu sebelum masuk kedalam karung untuk proses penggilingan.

“Telah 3 tahun Uni memakai mesin diesel ini. Sebelumnya untuk memutar drum ini menggunakan tangan langsung. Dengan memakai mesin diesel ini cukup membantu kerja Uni.” Terang Uni As sambil meratakan rendang jagung di hadapannya agar cepat dingin, ‘diangin-anginkan’ istilahnya.

Begitulah kerja Uni As, begitu juga kerja perempuan di Nagari Koto Tuo ini. Nagari yang berada di ceruk sebelah timur Gunung Marapi yang hampir ke semua penduduknya bekerja sebagai pengolah kopi. Disebut sebagai pengolah, karena mereka tidak hanya sebagai petani kopi yang setelah panen akan memasarkan biji-biji kopinya, namun mereka langsung memproduksi kopi tersebut dengan berbagai merek yang dipasarkan hampir ke seluruh Sumatera bagian tengah.

Itulah, jika Saudara berkunjung ke Nagari Koto Tuo ini, akan sangat jarang Saudara jumpai laki-laki yang sedang lalu-lalang atau tengah duduk termenung di lepau-lepau. Laki-laki dari Nagari ini sibuk berlalu-lalang di berbagai daerah di Sumatera bagian tengah memasarkan produk kopi mereka. Suami Uni As ini contohnya, ketika kami tanya, suaminya tengah pergi ke daerah 50 Kota untuk memasarkan kopi. ‘Mangampas’ begitu istilah lokal yang digunakan untuk menamakan profesi tersebut.

Kehidupan matrilineal Minangkabau begitu kental di sini. Nagari yang sepanjang mata memandang hanya akan dijumpai perempuan yang tengah lalu menjunjung hasil panennya atau tengah menjemur kopi atau tanaman lain di halaman rumahnya. Perempuan-perempuan yang tidak hanya berpangku tangan dengan kecantikannya menunggu suami pulang kerja. Begitu juga dengan keberlangsungan produksi kopi di Nagari Koto Tuo ini. Semua proses produksi ada di tangan perempuan-perempuan di Nagari ini; mengolah biji-biji kopi hingga siap direndang, merendang hingga pergi menumbuknya, sampai mengemas bubuk-bubuk kopi itu pada takaran tertentu ke dalam kemasan berbagai merek.

Begitu juga dengan Uni As, setelah merendang ia akan langsung pergi ke huller untuk menggiling biji-biji kopinya. Selepas magrib, sembari menunggu lakinya pulang mengampas,  ia akan mengemas bubuk-bubuk kopinya ke dalam berbagai takaran kemasan. Hingga besoknya kopi-kopi itu siap untuk dipasarkan.

Kopi yang telah digiling di huller siap dikemas dan dijual ke pasar.
Wanita menyangrai, pria membawa kopi ke pasar-pasar di wilayah luar Kab. Tanah Datar.

 

Lain lagi ceritanya dengan Etek Ya, perempuan yang sudah berumur ini sepanjang umurnya tidak terlepas dari kopi. Ia bercerita, “sekarang sudah enak ada huller. Dulu kami, padusi-padusi Koto Tuo ini pergi menumpuk ke Sungai Tarab. Menumbuk ke kincir air milik Tuak Ngulu di Sungai Tarab. Tidak jarang juga kami menginap di sana kalau kemalaman karena tumbukan kopi kami banyak. Bahkan kopi-kopi itu langsung dikemas di kincir air itu.”

“Itu enaknya dulu dengan adanya kincir air itu. Kami biasa berangkat bersama-sama dari Koto Tuo ini, menumbuk bersama-sama, dan pulang bersama-sama juga. Bahkan kalau menginap di kincir juga bersama-sama. Sehingga selalu terkenang sekarang walau kincir air itu sudah tidak dipakai lagi karena rusak. Berbeda keadaannya dengan sekarang, hampir setiap rumah di Koto Tuo ini punya mesin diesel untuk merendang kopi, jika pun tidak punya mereka datang untuk mengupah, bukan untuk kerja bersama-sama.” Sambung Etek Ya, matanya menerawang mengenang masa lalunya.

Itulah tradisi, “padusi marandang, nan jantan mangampas.” Begitu kira-kira bunyinya. Sebuah pembagian kerja antara perempuan dan laki-laki yang memang sangat kentara sekali peran matrilinealnya. Matrilineal Minangkabau yang menarik garis ke garis ibu tidak hanya menempatkan perempuan pada posisi yang terhormat, namun juga sekaligus menempatkan perempuan sebagai kunci dan memegang peran utama dalam keberlangsungan kehidupan, termasuk pada tanah dan segala sesuatu yang ditanam di atasnya. Begitu juga dengan kopi, Uni As mewarisi profesinya ini sebagai tukang rendang atau roaster tradisional dari ibunya, bukan dari suaminya. Uni As juga yang memegang kunci keberlangsungan produksi kopinya.

Jika perempuan-perempuan di Nagari Koto Tuo ini tidak lagi menjalankan perannya, maka bisa jadi nama Koto Tuo-Sungai Tarab dalam pasar produksi kopi di Sumatera bagian tengah akan lenyap juga. Saudara tidak akan bisa membayangkannya bukan. Sama tidak bisa membayangkan bahwa perempuan-perempuan berkulit kuning langsat dan mata cokelat ini, yang sulit dicari tandingan kecantikan alaminya adalah perempuan-perempuan tangguh yang memegang nadi kehidupan kopi di Sumatera bagian tengah ini.

Gubuk tempat uni Asniwati penyangrai kopi di daerah Koto Tuo.
MiteKopi Written by:

Mitekopi adalah sebuah usaha pendokumentasian kopi beserta cerita yang mengiringinya di Minangkabau. Selama ini, orang-orang mengamini Minangkabau sebagai sebuah bangsa yang besar dengan adat matrilinealnya yang unik, namun tidak banyak yang memahami bahwa salah-satu yang membangun peradaban tersebut adalah kopi. | Tulisan oleh Pinto Anugrah. | Foto oleh Allan Arthur.

One Comment

  1. October 2, 2016
    Reply

    Gaya tulis dan foto2 di mite kopi asik sekali. Salut dan terimakasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *