Swarnadwipa-swarnakahwa; Kopi Emas dari Tanah Emas

Suatu ketika, Alfadriansyah, Q Grader pertama dan satu-satunya di Sumatra Barat mempersentasikan di depan kami bahwa Kopi Minang Solok itu body-nya tipis, sedikit di atas teh, ini menjadi kelemahan namun juga sekaligus menjadi keunggulan dari Kopi Minang Solok, begitu terangnya. Sehingga jika diseduh warnanya tidak akan jauh dari teh—walaupun benar-benar berbeda juga dari warna teh—kuning keemasan seperti sepuhan emas di sebuah lempengan besi.

Sumatra Kopi Arabika Minang Solok, begitu nama indikasi geografis Kopi Minang Solok ini. Bicara tentang Sumatra adalah bicara dari masa ke masa, ratusan, atau bahkan ribuan tahun.

Pada narasi cerita nabi Sulaiman, nabi dengan seribu bahasa itu diceritakan mengambil emas di Gunung Ophir Pasaman, wilayah Sumatera Barat sekarang, untuk membangun istananya. Begitu juga pada peradaban tinggi Mesir Kuno, bangsa Mesir Kuno mencari kapur barus untuk pembalseman mumi-mumi Fir’aun ke pulau emas Sumatra.

Jika narasi tersebut terkesan terlalu mengada-ada—yang kebenarannya Allahualam, baiklah, kami akan menggesernya pada Sumatra awal abad masehi. Pulau Sumatra pada masa itu disebut dengan Swarnadwipa yang artinya pulau emas atau disebut juga dengan Swarnabhumi yang artinya tidak lain adalah tanah emas. Pada Tambo Minangkabau, narasi bangsa Minangkabau, menyebut pulau ini dengan Pulau Perca, yang mempunyai makna yang sama, pulau emas. Sebuah nama memang mengiringi peradabannya.

Begitulah, orang-orang selalu silih berganti mencari sumber emas ke pedalaman Sumatra. Emas ditemukan, ditambang, dan didulang, peradaban pun ikut terbangun, kerajaan pun berdiri, dan sistem kehidupan masyarakat pun terbangun. Minangkabau contohnya, peradaban Minangkabau tidak akan bisa lepas dari sistem kebudayaan yang terbangun karena adanya emas di pusat peradabannya.

Sepanjang perjalanan peradaban Minangkabau, catatan-catatan meninggalkan kerajaan-kerajaan yang pernah ada di tanah ini selalu berdiri pada salah-satu pusat pertambangan emas, yang juga dekat dengan aliran sungai. Sebut saja Kerajaan Malayu Kuno yang berada di pertemuan hulu Batanghari dengan hulu Batang Kampar. Lalu diikuti dengan Kerajaan Malayu Dharmasraya yang berada di bagian hulu Batanghari. Kemudian Aditiawarman menyatukannya dengan mendirikan kerajaan Malayupura di hulu tiga aliran sungai besar di Sumatra bagian tengah, yakni Kampar, Kuantan, dan Batanghari. Hulu-hulu aliran sungai di Sumatra bagian tengah inilah yang dulunya terkenal sebagai lumbung emas, setiap milimeter tanah yang dikuak maka akan ditemukan emas yang terkandung di tanahnya.

Tidak terkecuali kawasan hulu Batanghari yang mata airnya berada di kawasan antara Gunung Talang hingga Gunung Kerinci. Sebuah kawasan tepat di sudut selatan Gunung Talang. Salah-satu hulu Batanghari dengan tiga danau kembarnya, yakni Danau Diateh, Danau Dibawah, dan Danau Talang. Kawasan yang umumnya disebut dengan Alahan Panjang ini berada di ketinggian ±1500 mdpl adalah dataran lembah tertinggi di Sumatra Barat.

Perkebunan kopi yang tumpang sari dengan tanaman bawang di pinggir danau Diateh

Kabut tebal selalu menyelimuti Alahan Panjang. Orang-orang keluar dari rumah dengan berkain sarung dan pakaian berlapis. Gemertak gigi dan gigil tulang mengusir dingin membuat mereka berjalan sedikit lebih cepat, naik-turun undakan tanah, menyelusup masuk ke ladang-ladang. Angin menyapu dengan kencang. Riak di permukaan danau tidak ubahnya ombak di lautan. Sesudut mata memandang ke arah utara, terhampar kebun teh yang menghijau menanjak menaiki punggung Gunung Talang. Sesudut yang lain, hamparan ladang lobak, bawang, dan cabai menyelimut di gundukan-gundukan bukit.

Di ceruk-ceruk bukit, di seberang danaunya paling selatan— yang dinamakan Danau Diateh, di sudut lembah Gumanti sana, gundukan bukit yang berlimpitan, menghampar rimbun batang-batang kopi, baik yang masih berusia muda maupun yang sudah berusia tua. Itulah kebun-kebun kopi yang dikelola oleh Koperasi Solok Radjo, koperasi yang berada di Korong Bendang, Aie Dingin, kecamatan Lembah Gumanti..

Koperasi yang diketuai Alfadrian Syah ini berdiri tahun 2014, namun walaupun berdiri masih dalam hitungan jari, bicara tentang kopi di daratan tinggi Solok kita tidak bisa memundurkan tahun hanya dalam hitungan jari. Kira-kira 150 tahun yang lalu, kolonial belanda mendirikan tiga gudang kopi di daratan tinggi penuh kabut ini, tepatnya di Pasar Alahan Panjang, di Pasar Lolo Surian, dan di Pasar Sariak. Dengan tiga gudang kopi dalam satu kawasan, yang membentuk garis segitiga ini cukup mengindikasikan bahwa daerah ini menjadi daerah penting bagi perkebunan kopi—yang tentu saja mempunyai potensi produksi yang tinggi.

Matahari terbit di perbukitan Aie Dingin

Alahan Panjang – Sariak – Lolo Surian, jika dilihat pada peta dan menarik garis lurus penghubung pada ketiga daerah ini maka akan membentuk segitiga yang di dalamnya terdapat hulu Batang Gumanti dan hulu Batanghari—sungai terpanjang di Pulau Sumatra. Hulu yang terkenal tidak dengan produksi kopinya saja, namun hulu yang juga mengandung berkubik-kubik emas yang terkandung pada tanahnya. Bahkan itu sudah diketahui sejak seribuan masa silam.

Memang tidak ada catatan yang ditinggalkan, bahwa kawasan segitiga hulu ini pernah menjadi tapak suatu kerajaan masa silam. Namun jika dihiliri sepanjang aliran sungai ini, Batanghari, maka semakin ke hilir semakin banyak bekas tapak kerajaan yang menjaga bagian hulu ini. Sebut saja aliran ini menghilir ke selatan yang langsung disambut dengan Kerajaan Sungai Pagu. Setelah melewati kawasan Alam Surambi Sungai Pagu ini, aliran ini kemudian kembali membelok ke timur, masuk ke daerah Dharmasraya—daerah yang dikenal dengan ratusan kerajaan sejak jaman lampau. Lalu kemudian baru masuk ke kawasan Jambi dan aliran Batanghari ini semakin melebar karena sudah masuk ke dalam kawasan rendah.

Pola yang menarik. Pola jalur emas pada masa dahulu. Hulu adalah sebuah alam yang harus dijaga dan dibentengi. Dibentengi dengan kerajaan-kerajaan hingga ke hilirnya—bukan sebaliknya, pada pola barat, kerajaan yang harus dibentengi dari alam. Dan tampaknya, pola tersebut sangat disadari oleh Koperasi Solok Radjo, yang menjadi representasi masa kini sebagai alam perkopian pada daerah hulu. Tentu saja, pada representasi masa kini, juga mempunyai hilir sepanjang alirannya yang akan membentengi hulu ini. Sebut saja, kerajaan-kerajaan itu adalah kedai-kedai kopi yang menghilir, sebagaimana halnya Koperasi Solok Radjo dengan Rimbun Esspreso Brew & Bar. Seperti halnya semboyan Koperasi Solok Radjo itu sendiri yang sering keluar dari mulut Alfadriansyah: dari hulu ke hilir.

Pola emas, pola kopi, akan menghasilkan kopi yang emas pula. Diandai-andaikan saja. Tentu hal ini tidak akan mutlak. Namun bisa dibayangkan, cobalah duduk di bar kopi, mintalah pada tukang seduhnya arabika Solok Radjo ini dengan penyeduhan V60. Perhatikan kopi yang menetes dari kertas penyaringnya yang jatuh ke dalam gelas, tidak hitam atau kecoklatan seperti kopi pada umumnya, namun seperti tetesan emas. Swarnadwipa-swarnakahwa.

MiteKopi Written by:

Mitekopi adalah sebuah usaha pendokumentasian kopi beserta cerita yang mengiringinya di Minangkabau. Selama ini, orang-orang mengamini Minangkabau sebagai sebuah bangsa yang besar dengan adat matrilinealnya yang unik, namun tidak banyak yang memahami bahwa salah-satu yang membangun peradaban tersebut adalah kopi. | Tulisan oleh Pinto Anugrah. | Foto oleh Allan Arthur.

3 Comments

  1. hafiz
    January 14, 2017
    Reply

    luar biasa salam buat ms adi solok rajo ya ms pinto 🙂

  2. FX Sigit
    March 29, 2017
    Reply

    mau..

  3. Abellino Nasriono
    November 4, 2017
    Reply

    Tulisan yang mendebarkan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *