Angka 3 yang Keramat; Sesudut Kisah Pasa Gadang yang Tertinggal

Matahari belum turun sepenggalah. Terik Kota Padang dengan udara pantainya masih perih menjilat kulit. Sepeda motor pinjaman yang kami tunggangi berbelok arah masuk ke sudut jalan dekat Muaro Padang. Jalan lurus, panjang, dan melebar dengan trotoar di kiri-kanannya. Seketika suasana langsung terasa berubah. Seperti dihempaskan pada masa silam, masa pada puluhan tahun silam, akhir abad 19 atau awal abad 20. Walau pun matahari terasa begitu membakar, namun waktu serasa beku di sepanjang jalan ini.

Jalan Pasar Hilir-Pasar Gadang, tertulis pada sebuah plang merek toko rempah  yang sudah berkarat. Sepeda motor yang kami tunggangi melambat susuri jalan yang begitu lengang, tidak ada kendaraan lain yang lewat. Hanya ada truk-truk yang terparkir di sepanjang bibir trotoar. Ruko-ruko tua dengan arsitektur akhir abad 19 dan awal abad 20 langsung menyambut. Aroma rempah langsung menarik hidung. Di sepanjang pelataran ruko, rempah-rempah itu terjemur; kakao, pinang, dan pala. Supir-supir truk berkumpul di kedai-kedai kopi sudut bangunan ruko sambil tertawa dengan bertelanjang dada dan baju yang tersandang di bahu mereka.

Namun yang kami cari bukanlah rempah-rempah itu. Kami mencari gudang-gudang kopi, sebagaimana catatan Belanda yang menuntun kami ke sini, bahwa Pasa Gadang ini salah satu pengumpul kopi terbesar di Hindia Belanda. Kami terus memilin gas sepeda motor hingga ujung jalan besar Pasa Gadang. Kepala kami jadi tidak tenang, tiap sebentar menoleh ke kanan atau ke kiri. Menatap dengan begitu hati-hati, apakah yang mereka jemur itu kopi atau bukan. Mata kami hampir putus asa, tidak satu pun yang kami temukan terjemur itu kopi atau karung-karung yang bertumpuk di mulut ruko itu kopi.Roblox HackBigo Live Beans HackYUGIOH DUEL LINKS HACKPokemon Duel HackRoblox HackPixel Gun 3d HackGrowtopia HackClash Royale Hackmy cafe recipes stories hackMobile Legends HackMobile Strike Hack

Setelah kami singgah makan siang dengan rasa keputus-asaan, kami berencana balik arah meninggalkan jalan yang dibekukan waktu ini. Tiba-tiba hidung kami menangkap sesuatu yang lain, bukan lagi aroma masa lalu, namun ujung hidung menangkap aroma yang begitu akrab, aroma yang selalu tinggal di hidung kami. Aroma rendang kopi. Seketika kami terpaku dan mencari dari mana arah datangnya aroma itu.

Kami menghampiri seorang penjaga gudang pinang. Tato di lengan kirinya membuat kami sedikit berkidik untuk bertanya. Kesangaran seorang penjaga gudang langsung tergambar dari tampilannya. Namun ternyata itu hanya kesan yang terbangun di kepala kami. Laki-laki itu menyambut kami dengan begitu ramah. Dan dengan begitu terperinci memberi petunjuk arah agar kami sampai ke tempat orang merendang kopi sebagaimana hidung kami menciumnya.

Kami sampai di sebuah rumah berdindingkan seng. Aroma rendang kopi semakin pekat tercium. Di dinding seng itu terpaku sebuah spanduk yang bertuliskan Bubuk Kopi Cap 3 Sendok. Kami masuk dengan ragu. Seorang perempuan keturunan setengah baya menyambut dengan pandangan kosong. Setelah memperkenalkan diri dan sedikit berbasa-basi, kami dipersilakan masuk. Hawa panas dari tungku-tungku yang masih menyala langsung menyambut.

IMG_4934

Foto Oleh Allan Arthur

Rupanya kami terlambat selangkah, mereka baru saja selesai merendang biji-biji kopi. Aroma kopi yang terpanggang masih terkurung di ruangan sempit itu. Seorang laki-laki setengah baya masih berdiri di depan tungku dengan arang yang masih menyala. Laki-laki itu sibuk memilah-milah biji kopi untuk diangin-anginkan.

IMG_4937

Foto Oleh Allan Arthur

“Usaha kopi kami ini sudah tiga generasi di atas Bapak saya ini.” Terang perempuan setengah baya yang menyambut kami tadi, sambil menunjuk laki-laki yang tengah mengangin-anginkan biji-biji kopi yang baru selesai di rendang.Watch Cyberbully (2015) Full Movie Online Streaming Online and Download

IMG_4928

Foto Oleh Allan Arthur
IMG_4939

Foto Oleh Allan Arthur
IMG_4924

Foto Oleh Allan Arthur

Saya mengangguk sembari mata tidak lepas memandang segala aktivitas yang ada di ruangan itu. Seorang perempuan duduk di sebuah pojok sambil menyortir biji-biji kopi yang belum dipanggang. Seorang laki-laki lain duduk di belakang meja, di balik sebuah jendela, sesekali terdengar bunyi ketukan meja dari laki-laki tersebut. Rupanya laki-laki itu tengah membungkus bubuk kopi yang siap untuk dipasarkan. Lalu seorang laki-laki lain datang dari dalam rumah dengan berjalan tergesa. Mengambil sebuah bungkusan dari atas meja tempat laki-laki tadi mengetuk-ngetuk dan kemudian langsung menuju sepeda motornya yang terparkir.

IMG_4932

Foto Oleh Allan Arthur

“Sekarang yang menjalankan usaha kopi Cap 3 Sendok ini Bapak saya bersama dua saudaranya yang lain. Juga angka 3. Telah tiga generasi dan yang menjalankan saat ini tiga bersaudara.” Tambah perempuan setengah baya di hadapan saya ini menekankan. Saya jadi mengerti, laki-laki yang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing ini ternyata bersaudara dan merekalah yang saat ini berjibaku untuk tetap menghidupkan merek Cap 3 Sendok ini.

IMG_4931

Foto Oleh Allan Arthur

Memang kopi Cap 3 Sendok ini cukup ternama di kawasan Pondok, Kampung Cina, Kota Padang. Kedai-kedai kopi tradisional yang ada di kawasan ini—yang terkenal dengan pusat jajanan Kota Padang—umumnya memakai kopi Cap 3 Sendok.

IMG_4919

Foto Oleh Allan Arthur

“Dulu di kawasan ini banyak yang memproduksi kopi dengan berbagai merek, namun sekarang tinggal kami satu-satunya,” terang perempuan yang akrab dipanggil Taci ini. Panggilan akrab untuk perempuan keturunan Tionghoa.

Saya jadi ingat dengan Pasa Gadang, tujuan utama kami menyilau kawasan ini. Pertanyaan-pertanyaan yang menggelisahkan masih ada di kepala. Tujuan kami datang ke kawasan Pasa Gadang untuk mencari gudang-gudang kopi dari jejak masa lalu tidak terpenuhi. Namun, ada jejak lain, setidaknya memberi isyarat bahwa Pasa Gadang dengan kawasan sekitarnya yang disebut dengan kawasan Pondok, Kampung Cina, Kota Padang, belumlah mati. Diam-diam, kawasan ini masih menggeliat dengan tenang menembus waktu, memelihara ingatan akan masa lampu. Kami pulang, tidak jadi dengan kecewa. Kami pulang dengan berjanji dalam diri akan kembali merancah kawasan ini.

MiteKopi Written by:

Mitekopi adalah sebuah usaha pendokumentasian kopi beserta cerita yang mengiringinya di Minangkabau. Selama ini, orang-orang mengamini Minangkabau sebagai sebuah bangsa yang besar dengan adat matrilinealnya yang unik, namun tidak banyak yang memahami bahwa salah-satu yang membangun peradaban tersebut adalah kopi. | Tulisan oleh Pinto Anugrah. | Foto oleh Allan Arthur.

3 Comments

  1. Limo sendok parcrew
    March 18, 2016
    Reply

    Lailalah kutang barendo, kutang nan tagantuang ateh kopi. Hahaha bg pinto ko, muhlah carito bakawan kopi

  2. March 22, 2016
    Reply

    Tulisan nya baguusss

  3. Adrianus a.k.a Tjip
    February 19, 2018
    Reply

    Kopi cap 3 Sendok. Jalan Pasa Malintang kota Padang. Ada lagi kopi cap Bintang Mas di jalan Kp. Sebelah ix (9). Lebih mudah mencarinya dari jalan Pulau Karam depan SMP negeri 4 kota Padang. Ini usaha tradisional pengusaha UKM kopi yang konon katanya kopinya berasal dari Solok (mungkin pengaruh gudang hasil bumi di Pasa Gadang lebih dekat ke daerah Pondok).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *